Tuesday, October 11, 2016

MASALAH PENELITIAN KUANTITATIF


A.      Pendahuluan

Penelitian diawali dengan masalah penelitian. Masalah penelitian tidak hanya mendorong dilakukannya penelitian, tetapi juga membimbing peneliti dalam melaksanakan penelitian tersebut. Pemilihan metode penelitian, jenis data, dan teknik analisis data, misalnya, ditentukan oleh masalah penelitiannya. Tanpa masalah penelitian yang jelas peneliti tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Oleh karena itu, menentukan dan merumuskan masalah penelitian merupakan langkah yang sangat penting dalam kegiatan penelitian.

B.      Arti Masalah Penelitian

Menurut Licoln dan Guba (1985: 226-227) masalah penelitian adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh berinteraksinya dua faktor atau lebih yang melahirkan (a) keadaan yang menyulitkan, (b) pilihan-pilihan tindakan yang harus diambil, atau (c) akibat yang tidak diinginkan. Faktor-faktor yang berinteraksi tersebut  dapat berupa konsep, data empiris, pengalaman, atau faktor lain yang apabila dihubungkan dengan yang lain, mengisyaratkan munculnya kesulitan -- sesuatu yang tidak dapat dipahami atau tidak dapat dijelaskan pada saat itu. Tujuan penelitian adalah untuk memecahkan masalah tersebut sehingga muncul pemahaman atau penjelasan tentang hal yang dipermasalahkan itu. Pendapat senada dikemukakan oleh Kerlinger (1990: 28) yang menyatakan bahwa masalah penelitian merupakan kalimat tanya atau pernyataan yang menanyakan hubungan yang ada di antara dua variabel atau lebih. Jawaban dari pertanyaan tersebut dicari dalam penelitian.

C. Manfaat Masalah Penelitian
Masalah penelitian memiliki beberapa manfaat. Di antaranya adalah bahwa masalah penelitian menetapkan batasan (boundaries) kajian dan membimbing peneliti untuk menentukan informasi mana yang dibutuhkan dan informasi mana yang tidak dibutuhkan (inclusion-exclusion criteria) (Lincoln dan Guba, 1985: 227-228). Dalam kaitannya dengan manfaat pertama, dengan masalah penelitian yang jelas peneliti akan dapat mengetahui ke mana ia harus menuju dan dalam wilayah teritorial yang mana ia akan melakukan kegiatannya. Menurut istilah Glesne dan Peshkin (1992: 16) masalah penelitian memberi arah kepada peneliti dalam melakukan petualangannya. Dalam kaitannya dengan manfaat kedua, dalam setting peneliti akan menjumpai berbagai informasi: sebagian relevan dengan topik penelitian dan sebagian yang lain tidak. Dalam konteks inilah masalah penelitian menjadi filter. Di samping itu, masalah penelitian dapat menentukan pendekatan penelitian yang akan digunakan: pendekatan kuantitatif atau pendekatan kualitatif (Strauss dan Corbin, 1990: 36).

D. Sumber Masalah Penelitian
Strauss dan Corbin (1990: 34-36) mengidentifikasi tiga sumber masalah penelitian. Sumber pertama adalah saran dari profesor yang sedang melaksanakan penelitian di bidang tertentu. Cara pemerolehan masalah penelitian ini dapat meningkatkan kemungkinan peneliti terlibat dalam penelitian yang tengah dikerjakan oleh profesor tersebut. Namun demikian, masalah penelitian “pemberian” ini boleh jadi tidak menarik bagi peneliti atau berada di luar kemampuannya. Hal ini tidak menjadi masalah apabila kegiatan penelitian tersebut dijadikan wahana untuk belajar.
Sumber kedua adalah literatur teknis (seperti jurnal hasil penelitian dan buku). Literatur dapat menjadi perangsang bagi dilaksanakannya penelitian. Dalam melaporkan hasil penelitiannya penulis biasanya memberikan rekomendasi tentang bidang yang belum dikaji atau yang memerlukan pendalaman lebih lanjut. Ini dapat menjadi sumber masalah penelitian yang bermanfaat. Di samping itu, dalam membaca dan menganalisis  beberapa hasil penelitian (metaanalisis) atau beberapa teori tentang topik tertentu peneliti mendapati adanya kontradiksi di antara hasil penelitian atau teori tersebut. Ini menjadi kesempatan yang baik untuk melakukan penelitian serupa untuk memperoleh hasil yang lebih meyakinkan.
Sumber ketiga adalah pengalaman pribadi atau profesional, baik pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain (melalui diskusi atau seminar).  Dalam menjalani kehidupan sehari-hari orang sering memiliki pengalaman pribadi tentang bagaimana ia memperoleh dan/atau mempelajari bahasa tertentu dengan berhasil. Atau, orang memiliki pengalaman mengajar bahasa asing dengan sangat berhasil. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan replikasi terhadap hal yang sama atau mengkajinya dari sisi yang lain.
Senada dengan pendapat di atas, Rossman dan Rallis (1998: 76-77) menyatakan bahwa masalah penelitian dapat bersumber dari teori, hasil penelitian, lingkungan politik dan sosial, dan praktek-praktek keseharian.

E. Kriteria Masalah Penelitian yang Baik

Ada beberapa kriteria masalah penelitian yang baik. Di antaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh Kerlinger (1990: 29), bahwa masalah penelitian (1) harus mengungkapkan suatu hubungan antara dua variabel atau lebih, (2) harus dinyatakan secara jelas dan tidak ambigu, dan (3) harus dirumuskan sedemikian rupan sehingga menyiratkan kemungkinan diperolehnya data di lapangan. Dalam kaitan ini, Glesne dan Peshkin (1992: 16) mengatakan bahwa masalah penelitian harus realistik atau feasible.
Sementara itu, Moleong (1995: 76 – 81) mengusulkan prinsip-prinsip perumusan masalah penelitian, sebagai berikut: (1) perumusan masalah hendaknya diarahkan untuk menguji teori; (2) perumusan masalah hendaknya melibatkan hubungan dua faktor atau lebih; (3) perumusan masalah hendaknya mampu mengarahkan peneliti untuk menentukan metode penelitian yang digunakan; (4) perumusan masalah hendaknya dapat menjadi filter untuk menyaring informasi yang relevan dengan topik penelitian; (5) masalah penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan yang menghubungan faktor-faktor yang terlibat, dalam bentuk uraian atau diskusi, atau gabungan dari keduanya; dan (6) perumusan masalah dapat dilakukan dalam bagian tersendiri atau menyatu dengan bagian lain seperti latar belakang masalah atau tujuan penelitian.

F. Contoh Rumusan Masalah Penelitian
1. Is there any correlation between learning motivation and learning achievement?
2. Is there any difference in English achievement between male students and female students?
3. Is there any difference in English achievement between the students taught using communicative approach and the students taught using audiolingual method?

BIBLIOGRAFI


Glesne, Corrine dan Peshkin, Alan. 1992. Becoming Qualitative Researchers: An Introduction. London: Longman.

Kerlinger, Fred N. 1990. Azas-azas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Lincoln, Yvonna S. dan Guba, Egon G. 1985. Naturalistics Inguiry. London : Sage Publications.

Moleong, Lexy J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rossman, Gretchen B. dan Rallis, Sharon F. 1998. Learning in the Field: An Introduction to Qualitative Research. London: Sage Publications.

Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet. 1990. Basics of Qualitative Research : Grounded Theory, Procedures, and Techniques. London : Sage Publications.




EmoticonEmoticon